Jumat, 28 Oktober 2016

Catatan Perjalanan ke Desa Wisata Banyusumurup : Menilik Kegiatan Para Empu Membuat Keris


Desa Wisata Banyusumurup terkenal sebagai desanya pengrajin keris. Secara administratif, desa wisata ini termasuk dalam wilayah Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I. Yogyakarta. Letaknya berada di sebelah tenggara Makam Raja-raja Imogiri. Baca juga desa wisata krebet : http://www.toconfp.org/2016/12/catatan-perjalanan-desa-wisata-krebet.html

Para pengrajin keris di Desa Banyusumurup telah menekuni kerajinan tersebut sejak tahun 1950-an. Selain keris, mereka juga memproduksi aksesori senjata tradisional Jawa itu seperti sarung keris (disebut Warangka) dan tangkai keris (disebut Pendok). Wisatawan yang melawat ke Desa Banyusumurup dapat melihat para pengrajin membuat keris dan aksesorinya.Baca juga desa wisata kebon agung : http://www.toconfp.org/2016/10/catatan-perjalanan-desa-wisata-kebon.html

Alm. Djiwo Diharjotelah menjadi ikon para pengrajin keris di Desa Banyusumurup. Beliau yang telah meninggal dunia Januari 2015 lalu karena kanker paru-paru mewarisi keahlian membuat keris sebagai keturunan ke-19 Empu Supondriyo, Empu-nya Kerajaan Majapahit. Beliau menekuni profesi sebagai pembuat keris sejak tahun 1952. Sebanyak 36 penghargaan, termasuk dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah diterimanya sebagai bukti bahwa karyanya telah diakui.Baca juga desa wisata petingsari : http://www.toconfp.org/2016/10/catatan-perjalanan-desa-wisata.html 

Sebagian besar pengrajin memang memproduksi aksesori keris dalam skala rumah tangga sehingga tidak banyak papan nama penunjuk sanggar keris seperti halnya papan nama pengrajin gerabah di Desa Kasongan.Di antara para pengrajin keris lainnya, sanggar milik Pak Djiwo dinilai masyarakat sebagai sanggar paling terkenal se-Banyusumurup.

Untuk membuat warangka keris, dibutuhkan lempengan kuningan sebagai bahan baku utama. Palu, paku tatah, dan alas dari bahan aspal digunakan untuk membuat warangka. Prosesnya lebih mudah daripada membuat hiasan keris karena tidak perlu melebur bahan terlebih dahulu. Simak juga desa wisata ledok : http://www.toconfp.org/2016/10/catatan-perjalanan-ke-desa-wisata-ledok.html

Sarung keris dibentuk dari lempengan kuningan yang kemudian dipatri. Sarung keris dilekatkan di alas dari aspal sebelum ditatah. Proses penatahan dilakukan sesuai dengan motif yang diinginkan, biasanya didominasi motif bunga. Banyusumurup merupakan salah satu desa wisata unggulan di jogja.

Warangka yang telah ditatah dipertegas bentuknya dengan menggunakan batang besi. Larutan bersifat asam digunakan untuk mencerahkan warangka. Air jeruk digunakan untuk mencerahkan warangka. Namun, saat ini, air jeruk diganti dengan larutan HCl agar lebih praktis.

Sementara, pendok dibuat di rumah produksi lainnya. Biasanya, pendok dibuat dari kayu asem. Ada dua bentuk pendok yaitu gaya Solo dan gaya Jogja. Gaya Solo bentuknya lebih besar dan lengkung. Sementara itu, gaya Jogja bentuknya lebih kecil. Maka dari itu, proses membuat pendok gaya Solo lebih menuntut ketelitian dibandingkan dengan gaya Jogja Mataram yang lebih sederhana. Pendok-pendok ini diukir dengan motif binatang atau figur manusia.



This entry was posted in

0 komentar:

Poskan Komentar