Jumat, 28 Oktober 2016

Catatan Perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) : Pusat Perkembangan Kebudayaan Islam Modern


Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) terletak di Jalan Gajah Raya Semarang.Dengan luas lahan sekitar 10 hektare, MAJT mempunyai kapasitas bisa menampung kurang lebih 16.000 jemaah. Meskipun diresmikan pada tahun 2006, masjid ini sebenarnya telah aktif digunakan pada 2004. Ibadah Salat Jumat pertama kali dilakukan pada tanggal 19 Maret 2004 dengan khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, M.A.

MAJT ternyata telah melalui proses yang cukup panjang sebelum dapat dibangun sebagai masjid provinsi Jawa Tengah. MAJT lahir tak lepas dari sejarah Masjid Besar Kauman Semarang. Saat harta wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang kembali setelah sekian lama tak tentu rimbanya, banyak pihak kemudian mengusahakan pendirian MAJT di salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali.

Gubernur Jawa Tengah kemudian membentuk Tim Koordinasi Pembangunan MAJT pada tanggal 6 Juni 2001. Tim ini mempunyai tugas menangani masalah-masalah dasar dan teknis. Berkat kinerja tim koordinasi, anggaran pembangunan MAJT disetujui oleh DPRD Jateng untuk dimasukkan ke dalam APBD.

Peletakan batu pertama masjid dilakukan pada hari Jumat, 6 September 2002.Kemudian, masjid ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 14 November 2006.

Arsitektur MAJT dirancang oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT Atelier Enam Jakarta. Dia merancangnya dengan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam, dan Romawi.baca juga http://www.toconfp.org/2016/10/panduan-wisata-semarang-ke-pagoda.html

Gaya tersebut terlihat di atap limas khas Jawa di bangunan utama masjid. Namun, ujung atap dilengkapi kubah besar dengan empat menara. Ini mengacu pada gaya arsitektur Islam.
Sementara itu, gaya Romawi tercermin dalam 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar tersebut bergaya koloseum Athena di Romawi. Akulturasi budaya Romawi-Islam terlihat di kaligrafi yang terdapat di setiap pilar. Ke-25 pilar tersebut menyimbolkan 25 Nabi dan Rasul.
Gerbang MAJT dihiasi dua kalimat syahadat. Kemudian, pada bidang datar tertulis pula huruf Arab Melayu dan bahasa Jawa; “Sucining Guno Gapuraning Gusti”.
Selain sebagai tempat ibadah umat Islam, MAJT memang dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan wisata relijius. Ada 23 kamar penginapan dengan berbagai kelas untuk para peziarah.

Kemudian, menara MAJT yang bernama Menara Al Husna setinggi 99 meter adalah pusat perkembangan budaya Islam. Bagian dasar menara digunakna untuk Studio Radio Dais (Dakwah Islam).Menilik ke lantai 2 dan lantai 3, ada Museum Kebudayaan Islam. baca juga http://www.toconfp.org/2016/10/catatan-perjalanan-ke-curug-benowo.html


Spot wisata menarik lainnya adalah lantai 18 yaitu Kafe Muslim. Kafe ini dapat berputar 360 derajat. Lantai di atasnya, lantai 19, difungsikan sebagai menara pandang dengan lima buah teropong. Dari ketinggian ini, wisatawan bisa melihat kehidupan Kota Semarang dari atas. Teropong ini juga digunakan sebagai sarana melihat Rukyatul Hilal pertama kali pada awal Ramadan 1427H.
This entry was posted in

0 komentar:

Poskan Komentar