Jumat, 28 Oktober 2016

Panduan Wisata Jogja ke Desa-desa Wisata


Desa wisata adalah suatu bentuk pariwisata terpadu yang sudah tidak asing didengar. Desa wisata menyediakan atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung lainnya yang disediakan langsung oleh masyarakat. Dengan demikian, saat menikmati konten desa wisata, pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan tradisi warga di tempat tersebut.

Provinsi D.I. Yogyakarta sebagai provinsi yang memiliki beragam wisata alam dan budaya telah menetapkan beberapa wilayah sebagai desa wisata. Setiap wilayah memiliki kekhasan tertentu yang telah lama dibangun oleh warga setempat. Berikut ini deskripsi kami mengenai tiga desa wisata layak kunjung di Yogyakarta:

Desa Wisata Ledok Sambi di Jalan Kaliurang km 19,2mempunyai atraksi berupa Ecopark Outbond. Kegiatan wisata itu telah digolong-golongkan ke dalam paket-paket wisata sesuai jenis grup yang ingin menikmatinya. lebih murah untuk rental mobil jogja, karena transportasi ini terbaik saat ini.

Ada tipe outbond Corporate Outing. Paket wisata ini cocok untuk sekelompok kolega kerja yang ingin refreshingdari keseharian pekerjaan.Namun, agar tetap memorable, paket ini menawarkan permainan-permainan yang mengasah jiwa dan raga agar menjadi pemimpin andal, pekerja keras, dan pejuang ulet.

Keluarga bisa memilih paket Family Outing untuk kegiatan yang dapat memperkuat kebersamaan keluarga.Sedangkan paket School Outing cocok untuk studi tur sekolahan. Tidak tertarik dengan semua paket tersebut? Tersedia pilihan paket Special Program yang bisa mengakomodasi keinginan para wisatawan.

Desa Wisata Ledok Sambi mengadakan Sadranan setiap tanggal 21 Syaban. Acara warisan nenek moyang lainnya seperti kenduri dan ruwahan boleh diikuti oleh wisatawan.

Sementara itu, Desa Wisata Banyusumurup di wilayah Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, menawarkan kegiatan warga pembuat keris/empu.Para warga yang berdomisili di sebelah tenggara makam Raja-raja Imogiri itu sudah menjalani profesi sebagai pembuat keris dan aksesorinya sejak 1950-an.

Selain keris, dua aksesori keris berupa sarung keris (warangka) dan tangkai keris (pendok) juga diproduksi di tempat ini. Para pengrajin membentuk sanggar-sanggar dan memproduksi semuanya dalam skala rumah tangga.

Sanggar Pak Djiwo yang dimiliki oleh Alm. Djiwo Diharjo dianggap sebagai sanggar paling terkenal dan terbesar di Desa Wisata Banyusumurup. Pak Djiwo adalah keturunan ke-19 Empu Supondriyo, empu yang hidup di jaman Kerajaan Majapahit.

Sedangkan Desa Wisata Kasongan telah terkenal sebagai desa tempat para pengrajin gerabah berkarya.Warga yang berada di Kasongan pun sebenarnya bukanlah penduduk asli melainkan penduduk pendatang yang mendiami tanah tak bertuan.

Tanah-tanah tak bertuan itu ditinggalkan oleh pemiliknya karena takut mendapatkan hukuman dari Belanda. Pasalnya, ada seekor kuda milik Belanda mati di daerah tersebut. Sang pemilik tanah tidak mau mengakui tanah tersebut.Pun demikian juga penduduk asli di sekitarnya.

Gerabah Kasongan biasanya berupa alat-alat rumah tangga, hiasan interior rumah, dan mainan tradisional anak-anak. Hiasan berbentuk patung pengantin bernama Loro Blonyo dijadikan ikon gerabah Kasongan. Inspirasi produk tersebut ternyata berasal dari patung pengantin Keraton Jogja.


Itulah tiga desa wisata yang bisa di akses dengan sewa mobil yang menawarkan keunikan wilayah masing-masing. Wisatawan tidak perlu khawatir soal minimnya aktivitas atau kurangnya akomodasi karena sebagai desa wisata, pemerintah daerah dan warga menaruh perhatian lebih pada kebutuhan wisatawan.
This entry was posted in

0 komentar:

Poskan Komentar