Selasa, 10 Januari 2017

Catatan Perjalanan ke Desa Wisata Kasongan : Pusatnya Gerabah Kualitas Internasional


Desa Wisata Kasongan adalah sebuah lokasi wisata terpadu di daerah Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini terkenal sebagai tempat para pengrajin gerabah membuat karya berkelas internasional.

Kasongan berjarak sekitar enam kilometer arah selatan Alun-alun Utara Yogyakarta.Secara administratif, desa ini berada di Dukuh Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Prov. DIY. Baca juga desa wisata krebet : http://www.toconfp.org/2016/12/catatan-perjalanan-desa-wisata-krebet.html

Sebelum menjadi sentra kerajinan gerabah, dahulu kala, Kasongan adalah persawahan milik warga. Saat ada seekor kuda yang mati di tanah tersebut, siapa pun pemilik tanah persawahan itu tidak ada yang mau mengakui kepemilikan tanahnya.

Usut punya usut, ternyata kuda mati tadi diduga milik reserse Belanda. Memang, pada masa penjajahan Belanda, jarang ada warga pribumi yang berani membikin ulah dengan Belanda. Maka, kiranya cukup dimengerti mengapa tidak ada yang mau disalahkan atas kejadian kuda mati di sawah pribumi itu.

Penduduk di sekitar tanah persawahan tersebut merasa ketakutan jika dikenai hukuman oleh Belanda. Mereka lalu memilih bersama-sama melepaskan hak atas tanah sekitar persawahan tersebut. Baca juga desa wisata kebon agung : http://www.toconfp.org/2016/10/catatan-perjalanan-desa-wisata-kebon.html

Kabar banyaknya tanah bebas di daerah tersebut segera tersebar ke mana-mana. Penduduk luar daerah berdatangan dan mengakui tanah-tanah tak bertuan tersebut. Para pendatang baru itu lalu membuat kerajinan keramik sederhana dari tanah liat yang banyak ditemukan di persawahan.

Para pengrajin keramik itu disebut kundi (orang yang membuat hiasan rumah dan peralatan dapur). Mereka membuat mainan anak-anak dan alat-alat rumah tangga. Dulu, mereka melakukannya untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri alias tidak dikomersilkan. Sekarang, tradisi yang turun-temurun ini menjadi daya tarik utama Desa Wisata Kasongan. Baca juga desa wisata petingsari : http://www.toconfp.org/2016/10/catatan-perjalanan-desa-wisata.html 

Orang yang turut berjasa membantu perekonomian warga Kasongan adalah Sapto Hudoyo. Pak Sapto, seniman besar asli Jogja, itu mengajari warga untuk membuat produk gerabah bernilai jual tinggi.Hasilnya, pada tahun 1972, produk-produk gerabah Kasongan maju pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Perusahaan Sahid Keramik lantas tertarik mengkomersilkan gerabah Kasongan dalam skala besar di tahun 1980-an.

Dari banyaknya hiasan dan perabotan rumah tangga dari gerabah Kasongan, ada satu hiasan ikonik yaitu patung pengantin Loro Blonyo.Patung ini pertama kali dibuat di sanggar Loro Blonyo.Pengrajin sanggar milik Pak Walujo itu terinspirasi dari patung pengantin milik Keraton Jogja.Mereka lalu membuat patung serupa yang berhasil menggaet hati banyak konsumen untuk membelinya.

Kepopuleran patung Loro Blonyo juga dipengaruhi oleh mitos tentangnya. Dipercaya, patung tersebut akan mendatangkan keberuntungan bagi rumah tangga dan melanggengkan kehidupan berumah tangga orang-orang yang menaruhnya di dalam rumah. Dalam perkembangannya, patung Loro Blonyo tidak lagi melulu mengenakan pakaian adat pakem Jawa. Ada pula patung serupa dengan pakain adat Bali dan pakaian tradisional Thailand. lihat panduan wisata jogja untuk mengetahui info lainnya.


Desa Wisata Kasongan adalah tempat yang cocok untuk para wisatawan yang haus akan sisi lain budaya Jawa. Di sini, mereka bisa melihat cara pengerjaan kerajinan gerabah dan membeli langsung gerabah tersebut dari pengrajinnya.
This entry was posted in

0 komentar:

Poskan Komentar